Berita


CERITA KEHIDUPAN


(Hidup adalah pilihan, tetapi kematian adalah sebuah keniscayaan yang mesti dihadapi. Mereka yang takut mati tidak akan menghargai kehidupan secara total)

 

Seorang ayah yang bernama kehidupan memiliki tiga orang anak yang memiliki tipe kepribadia  yang berbeda. Anak pertama bernama  cinta, anak kedua bernama benci sedangkan anak ketiga bernama maaf. Si ayah ini sangat bijak dan penyabar. Dia harus mengasuh anak-anaknya setiap hari tanpa sang ibu. Ibu mereka yang sudah meninggal bernama kematian.

Suatu hari terjadi pertengkaran hebat antara si cinta dan si benci. Masalah bermula dari si benci yang merasa mendapat ketidakadilan tatkala ayah mereka membelikan sepatu kepada si sulung. Si benci merasa bahwa ayahnya hanya memusatkan perhatian kepada anak sulungnya. Padahal seminggu sebelumnya si benci sudah dibelikan baju baru oleh ayahnya. Nampaknya dia tidak ingin si sulung dibelikan barang baru oleh ayahnya. Sementara si maaf tidak mendapatkan apapun dari ayahnya. Dia hidup apa adanya. Tidak menuntut lebih dalam hidupnya. Malah dia mengajak kakak-kakaknya untuk berdamai satu sama lain. Perdamaianpun tercipta ketika si sulung merelakan sepatunya untuk dipakai se benci. Si sulung melakukan hal itu benar-benar ikhlas.

Pada suatu malam, si benci menangis tersedu-sedu di sudut kamar. Si sulung bertanya “mengapa kamu menangis?, diapun bersahut aku ingat si Bunda. Dia telah pergi meninggalkan kita bertiga dan sang Ayah. Jika ada Bunda, hidupku selalu terjamin. Dia selalu memberiku uang, membeli sepatu baru, dan selalu memelukku siang dan malam. Si bungsupun bersahut “Kak, akupun tidak tahu sosok bunda seperti apa. Bukankah kamu pernah berkata kepadaku bahwa bunda hilang dari keluarga kita karena melahirkan saya? Aku ikhlas atas kepergian bunda. Saya yakin dia bahagia bersama Bapa di surga”.  Si sulung pun berbicara kepada saudara mereka “jangan menangis! Ibunda pergi karena cinta. Percayalah bawah Tuhan memiliki rencana yang terbaik di balik kepergian ibu.”

Hari ini adalah hari Minggu. Hari yang dikhususkan bagi Tuhan oleh pemeluk agama kristiani. Sang Ayah yang bernama “kehidupan” membangunkan anak-anaknya satu persatu agar mereka dapat menghadiri perayaan ekaristi hari Minggu tersebut. Si Sulung dan si bungsu  dengan sigap beranjak dari tempat tidurnya. Sedangkan si Benci masih ingin dibaluti oleh selimut tebalnya. Dialah anak yang paling susah dibangunkan setiap pagi hari dan bangun pagi bagi dia adalah pekerjaan yang memberatkan. Tetapi si Benci tetap bangun juga walaupun agak susah dibangunkan.

Dengan segera sang ayah mengajak mereka untuk  mempersiapkan diri menuju ke Gereja. Sebelum ke Gereja si Bungsu bertanya kepada ayahnya “Ayah, mengapa kita harus berpakaian rapi ke Gereja?” Sang Ayah menatap anak-anaknya seraya tersenyum manis serta menjawab “sesungguhnya tidak ada kewajiban untuk berpakaian rapi, tetapi karena kita berhadapan dengan orang banyak dan hendak bertemu dengan Tuhan, ya.... agak rapi sedikitlah walaupun tidak berlebihan.”

Setelah segenap anak-anaknya telah mempersiapkan diri, sang ayah mengajak anak-anaknya berangkat ke Gereja. Jarak antara rumah dan Gereja sangat dekat, sehingga dapat dijangkau dengan cara berjalan kaki. Si Sulung menuntun kedua adiknya berjalan sedangkan sang ayah berada di belakang mengiringi langkah kaki anak-anaknya. Sebagai seorang ayah, dia sempat memikirkan tentang pentingnya kehadiran seorang ibu di tengah anak-anaknya. Namun, dia tidak memilih untuk mencarikan ibu bagi anak-anaknya. Dia berusaha sekuat tenaga agar menjadi seorang ayah sekaligus ibu yang bersifat sebagai pemelihara. Dia bertekad untuk tidak menikah lagi. Dan anak-anakpun tidak menuntut kehadiran sosok ibu dalam keseharian hidup mereka. Meskipun harus diakui bahwa sosok ibu itu sangat penting. Bahkan ada yang mengatakan bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Apalah artinya jika ibu yang dimaksud bukanlah ibu kandung yang melahirkan anak-anaknya.

Tibalah mereka di Gereja. Begitu banyak umat yang hadir. Mereka memilih tempat duduk terdepan di Gereja. Anak-anaknyapun sangat mudah diatur. Kecuali si “Benci” yang selalu bertingkah aneh. Kadang berdiri, duduk bahkan berjalan mondar mandir di dalam Gereja. Tetapi, dia tidak berisik seperti anak-anak kebanyakan. Sedangkan kedua anaknya yang lain sangat tekun berdoa dan tidak sedikitpun bermain di dalam Gereja meskipun anak seusia mereka sangat sering bermain. Tetapi mereka tahu diri. Siapa diri mereka dan sedang berada di mana.

Ritus demi ritus mereka ikuti dengan sepenuh hati. Sang ayahpun memperhatikan kedua anaknya sangat tekun berdoa. Ritus komunipun tiba. Ritus ini merupakan ritus penerimaan tubuh dan darah Kristus berupa hosti kecil yang menjadi tanda kehadiran Kristus dalam hidup umat Kristiani. Si sulung sudah boleh menerima sakramen ekaristi. Sedangkan kedua adiknya belum. Akan tetapi  sang ayah membawa mereka beriringan menyambut tubuh dan darah Kristus. Sang ayah membawa kedua anaknya yang belum dapat menerima komuni denga  harapan bahwa Pastor akan membubuhkan tanda salib ke dahi kedua anaknya yang belum komuni. Nampaknya si Benci reaksinya agak berbeda. Dia sepertinya tidak menerima kenyataan bahwa dirinya hanya mendapat berkat berupa tanda salib di dahi dari Pastor. Dia ingin menerima hal yang sama seperti yang diterima kakaknya. Ketika selesai menerima komuni, si benci merajuk dan meminta dibagikan hosti kepada ayahnya. Dia memaksa ayahnya agar memberikan sebagian dari hosti yang sedang dikunyah ayahnya secara pelan-pelan. Tetapi ayahnya diam saja. Dia tidak memberikan penjelasan apapun terhadap anaknya itu. Sementara si bungsu yang bernama maaf hanya tersenyum lebar menyaksikan kakaknya bertingkah demikian.

Sepulang dari Gereja, mereka makan bersama di ruang makan keluarga. Ayahnya memberikan penjelasan kepada anaknya yang merajuk karena tidak diberikan hosti, demikian “anakku, hosti itu adalah santapan kudus. Dia hanya bisa disantap oleh orang yang pantas menyantapnya. Dan salah satu syaratnya adalah harus sudah menerima sakramen ekaristi kudus. Sakramen itu diberikan kepada orang yang sudah dewasa imannya. Sedangkan anakku belum menerimanya kan?” ya ayah, sahut si benci. Kemudian si sulung berbicara “kalau adik sudah besar baru dapat menerima Hosti kudus ya? Sekarang belum bisa. Sudah dengar ya apa yang dijelaskan ayah?” Si Benci diam tanpa sedikitpun kata yang keluar dari mulutnya. Tetapi wajahnya  tidak menampakkan kesedihan lagi. Akan tetapi, tiba-tiba dia bertanya kepada ayahnya ,“Ayah... Ayah tidak korupsi kan? Tadi Pastor berkotbah tentang korupsi di Gereja. Masa kita harus mengambil apa yang bukan hak kita ayah. Ayah tidak boleh begitu ya?” Sahut ayahnya “ya... anakku. Ayah janji tidak akan korupsi. Lebih baik kita hidup sederhana dari usaha kita sendiri daripada kelihatan hidup berkelimpahan tetapi dari hasil korupsi.” (Monsy-Red)

 

PPDB Online


PPDB Online

Kontak


Alamat :

Jl. Ahmad Yani No. 35 Putussibau

Telepon :

081254844983

Email :

smpkaryabudi21@gmail.com

Website :

http://smpkaryabudiputussibau.sch.id

Pengumuman UN


Pengumuman UN

Banner


Banner